
Hal lucu yang banyak banget terjadi di rumah-rumah Indonesia: orang tua mendampingi anak seringnya merasa punya ‘jurus sakti’ dalam mengasuh anak. Biasanya alasannya sederhana yaitu ‘dulu berhasil kok waktu kakaknya kecil’. Padahal, manusia itu nggak kayak resep masakan. Anak pertama bisa lembut kayak angin sore, anak kedua bisa keras kepala kayak ombak pasang. Dan nggak ada yang salah dengan itu.
Kadang orang tua lupa bahwa setiap anak lahir dengan fitrah dan keunikan masing-masing. Satu cara yang bikin kakaknya nurut, bisa jadi malah bikin adiknya memberontak. Tapi karena dulu berhasil, akhirnya cara itu dipakai terus, sampai lupa kalau yang sedang dihadapi sekarang adalah manusia lain, bukan versi mini dari anak sebelumnya. Rasulullah SAW pernah bersabda: โSetiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.โ (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini, kalau dibaca pelan-pelan, rasanya seperti teguran halus untuk menegaskan bahwa fitrah anak itu bersih, lembut, dan siap tumbuh jadi apa pun yang dibentuk oleh lingkungan terdekatnya, terutama orang tua. Artinya, tugas kita bukan membuat mereka jadi seperti yang kita mau, tapi membantu mereka menemukan siapa mereka sebenarnya.
Berikut beberapa cara yang bisa kita mulai lakukan!
Mengenali Potensi, Bukan Memaksakan Ekspektasi
Tugas orang tua bukan mencetak anak seperti di pabrik, tapi mengenali potensi yang Allah sudah tanam sejak mereka lahir. Ada anak yang cepat tangkap tapi gampang bosan. Ada yang pelan tapi tekun luar biasa. Ada yang suka menggambar, ada yang bisa betah baca buku berjam-jam. โDan Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.โ (QS. Al-โAlaq: 5). Ayat ini seperti pengingat bahwa setiap anak membawa bekal belajar yang unik. Yang dibutuhkan hanya ruang dan dukungan supaya potensi itu tumbuh tanpa terhambat oleh standar orang tua yang terlalu sempit. Dan kadang, bentuk dukungan paling sederhana adalah mendengarkan tanpa buru-buru mengoreksi.
Jadi Contoh, Tapi Jangan Takut Mengakui Sedang Belajar
Nggak ada orang tua yang sempurna, dan anak-anak sebenarnya nggak menuntut kesempurnaan, mereka cuma butuh kejujuran. Anak lebih percaya pada tindakan dibanding kata-kata. Kalau ayah bilang jangan marah tapi gampang tersulut, atau ibu bilang ‘jangan menyontek’ tapi suka nitip nama di absen rapat, ya anak menangkap pesan yang berbeda. Kalau memang belum bisa jadi role model yang sempurna, nggak apa-apa. Yang penting, orang tua tahu ke mana arah yang benar. Tahu siapa yang bisa dijadikan contoh, dan mengenalkan anak-anak pada sosok-sosok yang bisa diteladani โ entah lewat kisah nabi, sahabat, atau tokoh saleh zaman sekarang. Dengan begitu, anak punya pegangan yang jelas, bukan sekadar ikut-ikutan, apalagi dicekoki paham tanpa diberi kesempatan berpikir.ย ย

Belajar Bersama Anak.
Sering kali kita lupa, bahwa jadi orang tua juga bagian dari belajar. Bukan cuma mereka yang sedang tumbuh โ kita juga. Ada hari-hari di mana kita sabar, ada hari di mana kita ingin kabur. Dan itu manusiawi. Yang penting, anak tahu bahwa kita berusaha. Bahwa kita juga sedang menata diri, belajar sabar, belajar memaafkan, belajar menurunkan ego agar mereka tumbuh dalam cinta, bukan ketakutan. Ibn Qayyim al-Jauziyyah pernah menulis: โAnak adalah rahmat dan amanah. Jika engkau didik dengan baik, ia menjadi penolongmu di dunia dan akhirat; jika engkau abaikan, ia menjadi fitnah bagimu.โ Kalimat ini terasa banget maknanya saat kita mulai lelah mendidik anak. Mengingatkan bahwa semua proses ini โ rewel, debat, drama, dan tawa โadalah bagian dari ibadah yang panjang.
Menutup dengan Doa dan Kesadaran.
Pada akhirnya, setiap anak adalah cerita baru. Nggak ada template, nggak ada buku panduan yang benar-benar pas. Yang ada cuma niat baik, kesabaran, dan doa yang nggak pernah berhenti. โYa Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang bertakwa.โ (QS. Al-Furqan: 74)
Jadi, mungkin sudah saatnya kita berhenti menyamakan semua anak. Karena tiap anak bukan halaman baru dari buku yang sama, tapi buku yang berbeda dengan kisahnya sendiri. Dan tugas kita sebagai orang tua, adalah menjadi pembaca yang sabar yang nggak buru-buru menilai sebelum kisahnya selesai.


Leave a Reply